Syarat-syarat Kitab Dikatakan Suci – 2

Tuhan Yang Mewahyukan harus bersifat Maha Atas Segalanya

Mari kita simak dengan cermat ayat kitab umat Kristen yang tertulis dalam Kejadian 6 : 5 – 7 berikut ini:

“Ketika dilihat Tuhan, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah Tuhan, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. Berfirmanlah Tuhan : ”Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka.”

Ayat di atas ini sebenarnya kalau umat Kristen sedikit serius dan jeli, itu sangat melecehkan terhadap kemahakuasaan Allah. Ayat tersebut sangat jelas menunjukkan kekeliruan dan ketidak mahakuasaan Allah itu sendiri.

Penulis Alkitab menceritakan rencana awal ketika Tuhan menciptakan manusia, dimana Tuhan bermaksud semua manusia hidup tanpa dosa, tanpa cela, tanpa masalah. Tetapi setelah makhluk yang bernama manusia itu tercipta, dalam perjalanan kehidupan manusia itu sendiri, hasilnya tidak seperti yang Dia inginkan. Ternyata manusia ciptaan-Nya itu cenderung membuahkan kejahatan semata, maka menyesallah Tuhan bahwa Dia telah menjadikan manusia di bumi ini. Saking rasa menyesal begitu berat, maka membuat hati Tuhan pilu. Maka untuk menghapus manusia dari kejahatan yang mereka buat, didatangkan-Nya air bah untuk melenyapkan semua manusia saat itu, kecuali Nabi Nuh beserta keluarganya dan orang-orang yang beriman kepadanya.

Sungguh ironis sekali jika Tuhan ditempatkan oleh penulis Alkitab sebagai perancang atau pencipta yang keliru. Tentu hal ini akan membuat setan dan kawan-kawannya bangga atas kekeliruan Tuhan. Setan-setan tentu menertawakan Tuhan bahkan meledek Dia, karena setan-setan merasa menang dalam menggoda manusia ciptaan Tuhan sehingga mereka tergelincir dalam dosa dan kejahatan. Dan dalam cerita tersebut, dilukiskan penyesalan Tuhan yang begitu mendalam hingga hati-nya sangat pilu karena kegagalan yang dibuat oleh Tuhan sendiri.

Satu hal lain yang perlu kita catat, bahwa jika nanti di akhirat kita akan dilemparkan oleh Tuhan ke dalam api neraka, manusia berhak memprotes terhadap keputusan Tuhan yang akan menghukum kita. Kenapa? Sebab terciptanya kita manusia di muka bumi ini, semuanya bukan atas kehendak kita sendiri, tetapi atas kehendak-Nya.

Dialah Allah yang telah menjadikan dan menciptakan kita, tanpa diminta oleh kita bukan? Maka jika kita manusia akan disiksa di api neraka, itu suatu keputusan Tuhan yang keliru, sebab semua kesalahan tidak boleh ditimpakan kepada kita manusia, karena yang bersalah justru Tuhan itu sendiri.

Buktinya Tuhan mengaku dengan jujur dan polos bahwa Dia keliru telah menjadikan manusia yang ternyata cenderung berbuat kejahatan di muka bumi. Bagaimana mungkin kesalahan Tuhan ditimpakan kepada manusia!

Oleh sebab itu kalau perlu di akhirat nanti kita adakan demo secara besar-besaran menentang keputusan Tuhan, karena Dia telah melanggar Hak Asasi Manusian (HAM) bukan?

Semua ini membuktikan bahwa si penulis Alkitab tidak profesional, karena menempatkan Tuhan pada posisi yang lemah.

Justru dengan adanya ayat-ayat seperti itu, membuat para pembaca Alkitab yang serius dan kritis, akan memberikan penilaian yang salah terhadap isi Alkitab, apalagi menyangkut ketidak mahakuasaan Tuhan itu sendiri. Hal ini tentu merupakan pelecehan terhadap Tuhan, sekaligus membuktikan bahwa Alkitab tidak semuanya berisi wahyu atau firman Allah, tetapi banyak yang berasal dari tulisan manusia.

Tuhan Tidak Tahu??

Silahkan baca Kejadian 18 : 20 – 21
“20. Sesudah itu berfirmanlah Tuhan : “Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya. 21. Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluah kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya.”

Menurut penulis Alkitab, di kala dosa dan kebejatan yang begitu besar telah terjadi di kota Sodom dan Gomorah, malaikat Tuhan melaporkan kejahatan mereka kepada Tuhan. Untuk mengetahui apakah laporan malaikat tersebut benar atau tidak, maka Tuhan harus turun ke dunia untuk mengetahuinya. Dilukiskan oleh penulis Alkitab bahwa Tuhan perlu turun ke bumi untuk membuktikan laporan malaikat yang sampai kepada-Nya. Penulis Alkitab ini tidak menyadari bahwa ayat-ayat tersebut justru benar-benar sangat merendahkan kemahakuasaan Tuhan.

Kalau laporan kasus Sodom dan Gomorah saja lantas Tuhan harus turun ke dunia untuk mengetahuinya, bagaimana dengan laporan malaikat di jaman sekarang, dimana jumlah manusia sudah begitu banyaknya (sekitar 6 milyar) dan kejahatan sangat sulit dihitung jumlahnya? Kalau semata itu harus dicek kembali satu persatu kebenarannya oleh Tuhan dengan turun ke dunia ini, kapan urusan Tuhan akan selesai? Kalau begitu dimana letak kemahakuasaan Tuhan itu sendiri?

Jika ayat tersebut benar-benar wahyu Allah, berarti Allah di dalam Alkitab tersebut tidak memiliki sifat Maha atas segala sesuatu, dan Dia bersifat lemah seperti makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Tapi itulah kenyataannya dan demikianlah apa yang harus diimani oleh umat Kristiani karena mereka merasa yakin bahwa Alkitab adalah 100% wahyu Allah yang tidak mungkin bisa salah atau keliru, walaupun bertentangan dengan hati nurani mereka.

Kenyataan bahwa Tuhan benar-benar turun ke bumi untuk mengetahui laporan malaikat kepada-Nya, tertulis jelas di dalam Alkitab dimana Abraham datang mendekat dan berdiri di hadapan Tuhan, hingga terjadilah dialog antara Tuhan dan Abraham sebagai berikut:

Abraham : “Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik? Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar di dalamnya itu? Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” (Kej 18: 23 – 25)

Tuhan : “Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka.” (Kej 18 : 26)

Abraham: “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu, sekiranya kurang lima orang dari kelima puluh orang benar itu, apakah Engkau akan memusnahkan seluruh kota itu karena yang lima itu?” (Kej 18 : 27 – 28)

Tuhan : “Aku tidak memusnahkannya, jika Kudapati empat puluh lima disana.” (Kej 18 : 28)

Abraham :”Sekiranya empat puluh lima didapati disana?” (Kej 18: 29)

Tuhan : “Aku tidak akan berbuat demikian karena yang empat puluh lima itu.” (Kej 18 : 29)

Abraham: “Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata sekali lagi. Sekiranya tiga puluh didapati disana?” (Kej 18 : 30)

Tuhan : “Aku tidak akan berbuat demikian, jika Kudapati tiga puluh disana.” (Kej 18 : 30)

Abraham : “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan. Sekiranya dua puluh didapati disana?” (Kej 18 : 31)

Tuhan : “Aku tidak akan memusnahkannya karena yang dua puluh itu.” (Kej 18 : 30)

Abraham : “Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati disana?” (Kej 18 : 32)

Yang menarik dari ayat-ayat Alkitab tersebut terlihat sepertinya Abraham main-main dengan Tuhan. Dan yang lebih tidak rasional yaitu Tuhan kok dinasehati oleh Abraham. Bagaimana mungkin manusia bisa menasehati Tuhan? Mestinya Tuhanlah yang menasehati manusia, bukan sebaliknya!

Tuhan Berpikir

Bacalah Kejadian 18 : 17
“Berpikir Tuhan : “Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?”

Kalau untuk mengatakan kepada seorang saja (nabi Abraham) lantas Tuhan berpikir dulu, bagaimana di zaman sekarang yang sudah semakin modern dan canggih, apalagi jumlah manusia telah mencapai sekitar lebih kurang 6 (enam) milyar. Berbagai masalah, kejadian, problematika, dan kasus yang terjadi di dunia yang semakin tidak karuan ini, kalau semuanya itu harus dipikirkan oleh Tuhan, bisa dibayangkan, bagaimana sibuk dan pusingnya Tuhan dalam mengatasi manusia di dalam semesta ini.

Maaf, kalau kualitas ilmu pengetahuan Tuhan yang ada di dalam Alkitab hanya seperti itu, bisa-bisa Tuhan stress, mungkin bisa gila! Na’udzubillahi min dzaalik!

Tuhan tidak mungkin punya sifat lemah yang digambarkan oleh penulis Alkitab pada ayat-ayat tersebut. Kalau ayat-ayat itu diyakini sebagai firman Allah, ini berarti Tuhan di dalam Alkitab tersebut tidak memppunyai sifat Maha atas segala sesuatu, bahkan Dia sama seperti makhluk ciptaannya.

Karenanya bagaimana mungkin kita manusia harus menjadikan Dia sebagai satu-satunya yang mutlak serta berbakti dan menyembah hanya kepada-Nya, dan yang menentukan keselamatan semua umat manusia, sementara Dia sendiri tidak punya sifat Maha atas segalanya?

Sekarang marilah kita lihat dan membandingkan bagaimana Tuhan (Allah) yang ada di dalam kitab suci Al Qur’an, apakah Dia bersifat Maha atas segala sesuatu atau tidak! Perhatikan ayat-ayat sebagai berikut:

“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. (Qs 65 Ath Thalaq 12)

Subhanallah!! Dari satu ayat ini saja jelas sekali terlihat betapa luar biasa ilmu Allah dalam Al Qur’an. Betapa Maha Kuasanya Dia terhadap segala sesuatu. Dan betapa ilmu-Nya tidak terbatas meliputi segalanya.

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (Qs Al An’am 59)

Subhanallaah!!! Dari ayat Al Qur’an tersebut, jelas sekali kita melihat suatu perbedaan yang sangat menyolok antara Alkitab (Bible) dengan Al Qur’an.

Ayat-ayat Bible tadi terlihat betapa Allah ilmu-Nya sangat terbatas, sehingga Dia harus keliru, menyesal, tidak tahu, berpikir dan lain-lain.

Sementara Allah dalam Al Qur’an pada ayat-ayat tadi dijelaskan bahwa Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu dan ilmu-Nya tidak terbatas. Bahkan segala kunci yang ghaib semuanya diketahui-Nya. Nah, Allah inilah yang pantas kita sembah, kita jadikan satu-satu tumpuan hidup, tempat kita memohon pertolongan, karena Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu dan Dia punya sifat Maha atas segalanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: